-----
Sebagaimana
kita umat Islam ketahui dan yakini bahwa Allah SWT, Tuhan Semesta Alam,
Yang Maha Kuasa dalam mengatur segala sesuatu/urusan tiap makhluknya.
Beliau memberikan kasih sayangnya kepada orang beriman dan bertakwa
kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan akhirat. Bahkan terhadap orang yang
kufur dan munafik pun Allah SWT tetap memberikan kasih sayang-Nya
kepadanya selama di dunia. Beliau Maha Pengasih dan Penyayang serta Maha
Kuasa atas segala sesuatu.Kekuasaan Allah SWT tak terbatas, meliputi segala sesuatu. Beliau tak terikat oleh ruang dan waktu, karena ruang dan waktu adalah termasuk makhluk-Nya juga. Begitupun juga dalam hal perilaku-Nya, Allah Ta'ala Maha Mengatur setiap urusan pada makhluk-Nya meskipun tanpa perantara sekalipun. Meskipun tanpa perantara malaikat, meskipun tanpa perantara para nabi dan rasul, Allah Azza wa Jala sanggup mengatur segalanya tanpa merasa sibuk sedikit pun. Tanpa malaikat Jibril dan para Nabi pun, Allah mampu menurunkan wahyu kepada manusia. Tanpa malaikat Izrail pun, Allah mampu mencabut nyawa tiap makhluk-Nya. Tanpa perantara malaikat Mikail pun, Allah mampu menurunkan rizki. Begitupun dalam urusan yang lainnya dari Pencipta (Khalik) kepada makhluk-Nya.
Namun dalam hal ini Allah Maha Mengetahui kekurangan/keterbatasan pada tiap makhluk-Nya, juga sebagai salah satu bentuk kasih sayang-Nya kepada makhluknya, maka diciptakanlah perantara-perantara sperti malaikat Jibril dan para rasul dalam menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umatnya, diciptakanlah malaikat Mikail, pekerjaan & perniagaan sebagai perantara seseorang mendapatkan rizki. Termasuk diantara perantara yang diciptakan Allah adalah diciptakannya orang tua, pasangan (suami/isteri), saudara/kerabat, rekan kerja, tetangga, dan insan lainnya sebagai perantara seseorang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seseorang, yang sebetulnya (pada hakikatnya) adalah kasih sayang dari Allah SWT juga.
Memang benar kalimat "cukuplah Allah sebagai penolong dan pemberi kasih sayang" kepada kita selaku hamba, dan ini adalah ranah hakikat. Di samping itu, tanpa kita sadari ternyata kita pun membutuhkan kasih sayang dari selain-Nya, sebagaimana disebutkan di atas (orang tua/pasangan/saudara/rekan kerja, dsb.). Dan itu adalah fitrah/sunatullah/naluriah, tidak perlu disalahkan bila ternyata pada kenyataannya kita pun butuh pertolongan/perhatian/kasih sayang dari makhluk Allah. Itulah yang dimaksud penulis dalam hal ini sebagai perantara/sebabiyah/syariat, yang pada hakiki/hakekatnya adalah bentuk pertolongan/kasih sayang dari Allah SWT juga. Tentunya perhatian/kasih sayang yang sesuai dengan ketentuan-Nya.
Dalam catatan ini, penulis ingin berbagi sedikit tentang istilah perantara/sebabiyah dan hakekat. Sebab tidak jarang penulis temukan seorang muslim/ah yang berbicara tentang hakikat dalam tema/konteks/ranah yang berkaitan dengan sebab/syariat. Bukan tidak boleh menyertakan hakikat dalam pembicaraan/obrolan, tapi sebagai makhluk, kita juga dianjurkan untuk mencari sebab/syariat. Meskipun tidak menutup kemungkinan bagi seseorang yang memiliki karamah/maqam tertentu mendapatkan rizki yang tiba2 jatuh dari langit. Dan perlu Saudara/i ketahui bahwa tawakal itu adalah ketika usaha dan ikhtiar telah dilaksanakan. Sebab bila tanpa ikhtiar/usaha nyata yang kita lakukan, khawatir istilah tawakal itu disalahartikan, sehingga artinya lebih dekat ke arah pasrah/putus asa. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari keputusasaan. Aamiin..
WallahuA'lam...
-----
Semoga bermanfaat untuk Saudara/i-ku sekalian.. ^_^
No comments:
Post a Comment